TERKINI:

Ketergantungan Agroindustri Menjadi Faktor Tantangan Pertumbuhan Ekonomi di Sumut


KULI-TINTA.COM, MEDAN - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Wiwiek Sisto Widayat menyatakan ada beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumut.

Tantangan pertumbuhan yang pertama yakni ketergantungan Agroindustri.

“Selain memiliki lokasi strategis di sisi barat Indonesia dan daerah tujuan wisata budaya maupun alam yang indah, Sumut juga tercatat memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, terutama kelapa sawit, kopi serta karet. SDA tersebut banyak yang telah diolah menjadi produk industri pengolahan dan menjadi sumber utama pendapatan ekspor luar negeri Sumut,” katanya saat menjadi narasumber di Pelatihan dan Gathering Wartawan Kota Medan yang digelar di Taman Simalem Resort, Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumut, Kamis (26/9/2019).

Kemudian faktor yang kedua masih dikatakannya yakni adanya ketimpangan antar kabupaten/kota. Di mana, ketimpangan antar wilayah di Sumut cukup tinggi terutama antara pantai timur dengan pantai barat dan kepulauan.

Hal ini bisa kita lihat dari size ekonomi wilayah Pantai Timur yang mencapai 74 persen dari perekonomian Sumatera Utara. Di samping itu, indikator kemiskinan juga relatif lebih tinggi di wilayah kepulauan dan pantai timur.

“Sedangkan untuk tantangan yang ketiga yakni birokrasi masih menjadi hambatan investasi utama,” tambahnya sembari menjelaskan jika dilihat dari competitiveness ranking, Sumut stabil pada peringkat 20. 

Sementara itu, stabilitias makro ekonomi dan kondisi finansial, bisins dan tenaga kerja mengalami perbaikan. Sementara itu, birokrasi masih berada di peringkat yang rendah dan infrastruktur menurun.

Pada kesempatan itu, Wiwiek Sisto Widayat juga membeberkan mengenai rekomendasi dalam mendorong perekonomian di Sumut, yakni dengan memperkuat industri manufaktur.

Kemudian pariwisata sumber pertumbuhan ekonomi baru, sebab pariwisata berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang kuat dan resilien. Hal ini tercermin dari Provinsi Bali yang pertumbuhan ekonominya di kisaran 6 persen dan PDRB per kapita mencapai Rp 54 juta di tahun 2018.

“Pengembangan pariwisata Sumut menghadapi kendala konektivitas, fasilitas pendukung serta keamanan disisi hard infrastructure. Sementara kualitas SDM, kesadaran masyarakat, aspek pemasaran serta kelembagaan dan regulasi pemerintah masih menjadi kendala soft infrastructure dalam pengembangan Danau Toba Kedepan," bebernya sembari menambahkan untuk rekomendasi yang ketiga dalam mendorong perekonomian di Sumut yakni lesson learned upaya peningkatan investasi.

Dalam rangka mendorong investasi dari sisi swasta, masih dikatakannya diperlukan perbaikan birokrasi perizinan serta kemudahan dalam pembebasan lahan, insentif pajak, perjanjian perdagangan, dan harga kebutuhan dasar industri seperti upah minimum dan harga gas industri perlu terus dikaji untuk mendapatkan win-win solution bagi masyarakat, negara dan korporasi sehingga daerah semakin kompetitif.(Robert)