TERKINI:

Terlibat Sebagai Pengendali Narkoba Jaringan Internasional, Seorang Napi Lapas Tj. Gusta Ditangkap


KULI-TINTA.COM, MEDAN - Kurungan penjara tampaknya tak mampu membuat para pelaku kejahatan peredaran narkoba jaringan internasional ini jera. Pasalnya, salah seorang narapidana Lapas Tj Gusta kembali diamankan petugas BNNP Sumut atas peranannya sebagai pengendali peredaran narkoba.

Napi tersebut ialah Khairul Arifin alias Dedek Kunto yang turut diamankan bersama 4 orang jaringannya.

"Khairul Arifin merupakan narapidana kasus narkotika yang dihukum 8 tahun penjara. Dalam jaringan ini dia merupakan pengendali peredaran narkoba yang dipesan dari Malaysia," ucap Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Atrial, Jum'at (26/4/2019) pagi.

Brigjen Atrial menjelaskan pengungkapan jaringan ini berawal dari tertangkapnya tersangka Iyan (30) di Jalan Lintas Sumatera Desa Padang Halaban Kecamatan Rantau Utara Labura pada Sabtu (13/4/2019) dinihari. Ia diperintahkan mengantarkan barang haram tersebut seberat tiga kilogram oleh Sandi (DPO) kepada tersangka Bantut.

"Personil kita menangkap Iyan saat hendak mengantarkan shabu ke tersangka Bantut. Saat itu dia tengah mengendarai sepeda motor. Dari tersangka kita sita shabu seberat 3 kilogram yang dikemas dalam tiga bungkusan,"sebut Atrial.

Selanjutnya dari penangkapan Iyan, petugas melakukan pengembangan. Selang satu jam kemudian, petugas meringkus tersangka Said Zulham (42) dan tersangka Sangkot Hairot (30). 

"Keduanya merupakan kurir shabu yang diperintahkan Sandi (DPO) untuk mengantarkan narkoba kepada tersangka Bantut. Petugas mengamankan kedua tersangka di kawasan Kampung Baru, Kota Tanjungbalai," bebernya.

Bersamaan dengan penangkapan tersangka Said dan Sangkot, personil BNNP lainnya melakukan pengembangan dan berhasil meringkus Pebriadi Juhri alias Bantut (29) di kawasan Kampung Baru Kelurahan Kartini Kecamatan Rantau Utara Labura.

"Tersangka Bantut merupakan penerima sabu dari tiga tersangka sebelumnya. Dia juga sekaligus sebagai gudang yang diperintah oleh tersangka Khairul Arifin alias Dedek Kunto dari dalam Lapas," sebut Atrial.

Dari tersangka Bantut, petugas menyita shabu sebanyak 16 bungkus dengan total 5602 gram dan 1900 butir pil ekstasi serta pil happy five sebanyak 330 butir.  

Sehingga total yang diungkap personil BNNP Sumut dari jaringan ini sebanyak 8.200 gram sabu dan 1900 butir pil ekstasi serta pil happy five sebanyak 330 butir. Shabu-shabu itu dikemas dalam bungkus susu coklat Milo.

"Kita juga terpaksa melumpuhkan tersangka Iyan, Zulham dan Sangkot karena pada saat pengembangan mereka berusaha melarikan diri," tegasnya.

Dalam pengembangan lanjut Atrial, terungkap tersangka Khairul Arifin alias Dedek Kunto memperoleh narkoba itu dari bandar narkoba Malaysia berinisial D. Tersangka yang baru menjalani 6 tahun hukuman itu juga diketahui selama ini mengendalikan jaringannya dengan menggunakan handphone.

"Kita tahu kan selama ini, napi dilarang memakai handphone. Pengakuan tersangka handphone itu diselundupkan tamu yang mengunjunginya. Kita juga akan berkoordinasi dengan polisi Diraja Malaysia untuk mencaritahu keberadaan D, bandar narkoba Malaysia yang menjadi pemasok sabu dalam jaringan ini," imbuhnya lagi.

Untuk ke lima tersangka, penyidik menjerat mereka dengan Pasal 114, Pasal 112, dan Pasal 132 UU nomor 35 Tahun 2009 Tentang Tindak Pidana Narkotika.
"Ancaman maksimalnya hukuman penjara seumur hidup atau mati," pungkasnya.

Tidak hanya kali ini saja petugas BNN mengungkap peredaran narkoba dikendalikan napi lapas Tanjung Gusta. Sebelumnya pada Januari 2019 silam, BNN RI mengamankan Ramli, napi lapas Tanjung Gusta karena mengendalikan peredaran sabu seberat 25 kg.(Robert)