TERKINI:

Satreskrim Polrestabes Medan 'Mandul', Setahun Korban Penganiayaan Oknum Polri Tak Mendapatkan Keadilan


KULI-TINTA.COM, MEDAN - Erdianto Hutabarat (41) warga Jalan Bersama Ujung Gang Puskesmas No. 3A Kelurahan Bantan Kecamatan Medan Tembung mengaku kesal terhadap kinerja kepolisian Polrestabes Medan.

Pasalnya, ia mengaku lebih setahun sudah laporan penganiayaan yang menimpanya belum juga mendapatkan keadilan. Pengusaha depot isi ulang air minum ini, bahkan mengaku kepercayaannya terhadap Polri yang berslogan 3M (mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat) menjadi berkurang. Sebab, laporan aduannya terhadap Briptu M (35) tak kunjung mendapat kejelasan.

"Padahal udah 2 kali dilakukan gelar perkara di Polrestabes Medan dihadapan penyidiknya bermarga Sianturi, tapi gak terpecahkan juga. Manalah buktinya polisi sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat? Saya gak merasakannya," cetus Erdianto Hutabarat kepada wartawan, Senin (29/10/2018) sore.

Pun begitu, dirinya yang mengaku sebagai masyarakat awam dan sejatinya Polri sebagai Institusi yang diakui pemerintah menilai masih ada oknum polisi yang baik. Sehingga ia berharap sekiranya laporan penganiayaan yang diakuinya dilakukan Briptu M yang juga tinggal di Jalan Bersama Ujung Komplek Perumahan Albania Kelurahan Bantan bisa segera dituntaskan.

"Ini perkaranya di Polrestabes Medan, mereka yang menangani kasus ini. Seharusnya bisa diselesaikan disitu. Awalnya laporan saya di Poldasu, namun dilimpahkan ke Polrestabes Medan," aku Erdianto, sembari menunjukan kertas bukti laporan aduannya yang hampir kusam dengan nomor STTLP/877/X/2017/SPKT "I".

Dirinya juga mengatakan bahwa semenjak aksi pemukulan yang dilakukan Briptu M, hingga saat ini dirinya masih trauma. Bahkan, ketakutan juga dirasakan oleh istri, anak dan keluarga korban, lantaran Briptu M sering terlihat.

"Harapan saya, cepat selesai. Karena saya trauma, soalnya dia polisi bawa pistol. Kami sering bertemu dan berpapasan. Karena rumah kami sejalan dan gak begitu jauh. Sampai sekarang saya cemas," harapnya.

Dikisahkannya, aksi penganiayaan yang diduga dilakukan Briptu M (34) warga Jalan Bersama Ujung Komplek Perumahan Albania Kecamatan Medan Tembung terjadi dari buntut permasalahan kesepakatan masyarakat di Kelurahan Bantan mengenai truck masuk ke kawasan itu. Antara pelaku maupun korban berbeda pendapat, hingga tersulut emosi.

Disaat terjadi argumen, sebagian warga tidak merasa keberatan masuknya truck pengangkutan expedisi. Namun warga lain tidak setuju truck tersebut masuk ke pemukiman mereka.

Perdebatan dan perbedaan pendapat semakin tidak terkendalikan. Sehingga anggota Polri yang saat itu bertugas di Sat Intel Polrestabes Medan itu diduga menarik korban keluar dari ruangan rapat.

"Aku ditanya pelaku, bicara apa kau tadi. Lalu kujawab, ada bicara apa rupanya aku. Tak senang, aku langsung dibogemnya. Pipi kananku bengkak. Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polda Sumut," aku korban.

Tak hanya menahan sakit beberapa hari akibat tinju sang oknum polisi, namun rasa malu juga dirasakan olehnya lantaran kejadian itu dilihat halayak ramai hingga keduanya dapat dipisahkan.

Sayangnya, pejabat Polrestabes Medan terlihat enggan berkomentar terkait laporan aduan korban yang sudah 1 tahun lebih tersebut diklaim belum juga ditemui titik terang. Pasalnya, hingga berita ini di muat, Senin (29/10/2018) sore, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Dadang Hartanto, SH SIK MSi beserta Kasat Reskrimnya AKBP Putu Yudha Prawira SH SIK belum bisa memberikan keterangannya saat dikonfirmasi wartawan.(Robert)