Soal Dugaan Laporan Terhadap PT. Olivia Jaya Nusantara Terkesan Dipaksakan, Ini Tanggapan Polisi


KULI-TINTA.COM, MEDAN - Menanggapi pemberitaan soal laporan pelapor terhadap PT. Olivia Jaya Nusantara hingga pada tahap pemanggilan kepada Dolok Martin Siahaan, ST selaku Direktur Utama dan juga Kepala Perwakilan Surat Kabar Siasat Kota Sumatra Utara, AKBP Maringan Simanjuntak angkat bicara.

Kepada wartawan melalui pesan WhatsApp nya menjelaskan bahwa proses panggilan tersebut harus dihargai.

"Sebagai warga negara yang baik, agar panggilan dipenuhi dan berikan keterangan kepada penyidik dan perlihatkan bukti-bukti yang dimiliki. Penyidik akan tetap profesional melakukan proses penyelidikan dan penyidikan," jelas Kasubdit III/Jahtanras Ditreskrimum Polda Sumut, AKBP Maringan Simanjuntak, kepada wartawan, Minggu (23/9/2018) sore.

Sementara itu, saat dipertanyakan soal adanya kecurigaan pihak PT. Olivia Jaya Nusantara dalam penerimaan laporan pelapor atas dasar kepemilikan kendaraan yang dimaksud, perwira berpangkat dua melati emas dipundaknya ini mengaku sudah menjalani semua prosedur.
"Semua berjalan sudah sesuai prosedur," pungkasnya.

Seperti pemberitaan sebelumnya, Pasca pemanggilan Dolok Martin Siahaan, ST (35) selaku Direktur Utama PT. Olivia Jaya Nusantara, Andi Bintang, S.H., selaku kuasa hukumnya angkat bicara.

"Kami sangat menyesalkan dalam hal ini, pihak kepolisian dalam melakukan pemanggilan terhadap klien saya meskipun sebagai saksi. Dimana, saya melihat petugas kepolisian dalam menerima laporan korban kurang jeli dan terkesan dipaksakan. Dalam pelaporan, kami meragukan dasar kepemilikan kendaraan pelapor, karena kendaraan yang dimaksud masih dalam proses kredit bermasalah dan belum dibayar kurang lebih 3 Tahun," jelas Andi Bintang, kepada wartawan.

Sementara itu, dalam keterangannya, Dolok Martin yang juga merupakan Kepala Perwakilan Surat Kabar Siasat Kota Sumatra Utara, menjelaskan bahwa dalam proses penarikan yang dilakukan oleh pihak external dibawah naungan PT. Olivia Jaya Nusantara, sudah sesuai dengan prosedur.

"Dalam proses penarikan mobil tersebut, pemakai unit bukan lagi pihak pertama yang merupakan konsumen SMS Finance, melainkan pihak yang tidak dikenal dan mengaku-ngaku merupakan anggota kepolisian. Bahkan, pada saat penarikan, pihak external sudah mengarahkan yang bersangkutan ke kantor SMS Finance di Jalan Abdullah Lubis, Medan," bebernya.

Lanjutnya, dalam hal ini diduga konsumen telah melanggar Pasal 35 dan Pasal 36 dalam undang undang fidusia No. 42 Tahun 1999.

"Jelas dikatakan dalam undang-undang tersebut bahwa barang siapa memindah tangankan yang masih merupakan dalam jaminan fidusia dapat diberikan sanksi pidana 4 tahun penjara dan denda Rp 50 jt. Dalam artian, konsumen telah melanggar hukum dan dapat dipidana," ketusnya.

Terpisah, Andi Bintang, S.H., menjelaskan bahwa dalam proses penarikan yang dilakukan sesuai dengan undang-undang fidusia.

"Dimana pada saat ini sudah jelas hukumnya undang undang fidusia no 42 tahun 1999 pasal 15 dikatakan disana dalam melakukan eksekusi tentang jaminan fidusia sama kekuatan hukumnya dengan putusan pengadilan," tegasnya.

"Dalam hal ini pihak kepolisian sebagai penyidik seharusnya lebih jeli dalam menerima laporan korban, dimana si pelapor harus dapat menunjukkan bukti kepemilikan kendaraannya tersebut. Kami yakin dan percaya bahwa si pelapor tidak akan dapat menunjukkan bukti kepemilikan kendaraan yang dimaksud, karena saat ini posisi BPKB kendaraan tersebut berada di SMS Finance. Kami merasa jika ini merupakan laporan yang dipaksakan duduk perkaranya. Bahkan dalam penerapan pasal 363, 365, 368 juga terkesan asal-asalan. Kami minta agar pihak kepolisian dalam hal ini lebih jeli dan seadil-adilnya dalam melakukan pemanggilan terhadap klien saya," pungkasnya.(Robert)

Postingan populer dari blog ini

Oknum Kepling Terkena OTT Tim Gabungan Polrestabes Medan & Polsek Delitua, Uang Tunai Rp 30 Juta Disita Petugas

Diduga Dibunuh Oleh Mantan Suami, Janda Anak Dua Ini Tewas Bersimbah Darah

Kunjungi RM Nisba, Yasonna Laoli Berpesan Agar Tetap Menjaga Citarasa