Arogan Terhadap Masyarakat, Bripda IAZ Cs Dilaporkan


KULI-TINTA.COM, MEDAN - Aksi arogansi oknum kepolisian kembali diperlihatkan. Kali ini, hal tersebut dialami oleh Fetrus Nadapdap.

Peristiwa naas tersebut pun terjadi saat korban baru tiba dirumahnya, di Perumnas Simalingkar, Jum'at (14/9/2018) malam, lalu. Berselang beberapa menit, pelaku pun tiba dirumahnya yang tepat bersebelahan dengan rumah korban.

"Saya sempat kaget saat dia pulang mengendarai sepeda motor sambil menggeber-geber. Rumahnya sudah saya lewati, dan saya lihat ke belakang mengarah ke dia (Bripda IAZ-red), karena dia geber-geber sepeda motornya. Langsung ditantangnya saya. 'Apa kau lihat-lihat?' langsung kujawab lah, 'Apa rupanya? Kau tandai orang'," ucap Fetrus meniru ucapan pelaku kepada wartawan.

Bukannya meredam emosi, pelaku yang dikabarkan merupakan personil Dit Sabhara Polda Sumut, malah semakin menjadi. Perkelahian diantara keduanya pun tak terelakkan. Sejurus kemudian, pelaku masuk kedalam rumah dan tak berapa lama keluar dari dalam rumah sambil menenteng senjata laras panjang jenis SS-1.

"Saya tidak tau kalau dia petugas kepolisian. Karena malam itu dia mengenakan pakaian biasa. Mungkin waktu di dalam rumahnya itu juga lah dia menghubungi kawan-kawannya yang juga polisi. Makanya waktu kami ribut, tiba-tiba datang sekitar 5 orang dan langsung mengeroyok saya. Pelaku juga meletuskan senjata apinya. Kalau terdengar aku cuma dua kali, tapi orangtuanya menyebut ada 3 kali letusan,” jelas Fetrus.

Dengan beringasnya, Bripda IAZ Cs menganiaya korban hingga bermandikan darah dan sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Elizabeth. Kalah jumlah membuat Fetrus babak belur. Dalam kondisi tak berdaya disaksikan masyarakat sekitar, pemuda kelahiran tahun 1988 ini diboyong ke Markas Dit Sabhara Polda Sumut di Jalan Jamin Ginting, Simpang Simalingkar, lalu digotong ke Polsek Delitua.

Ternyata, Bripda IAZ sudah terlebih dahulu membuat laporan ke Polsek Delitua.
"Malam itu juga begitu dapat kabar, kami langsung membuat pengaduan ke Polsek Delitua dan tidak diterima. Selanjutnya, kami ke Polda Sumut, juga dibola-bola. Sampai akhirnya kami mengadu ke Polrestabes Medan, barulah pengaduan kami diterima, itu pun setelah besok hari Sabtunya,” ujar ibu korban saat meminta perlindungan hukum dari PBH Solidaritas yang dikomandoi Gindo Nadapdap, S.H., M.H., seraya menunjukkan bukti pengaduan dengan nomor STPL 2004/IX/2018/SPKT-Restabes Medan yang ditandatangani oleh Kanit SPKT-A, Ipda Sobaruddin Pasaribu. 

Gindo Nadapdap dalam keterangannya kepada wartawan menyebutkan, Kapolda Sumut harus tegas terhadap personelnya yang arogan. Kekerasan yang dilakukan kepada kliennya, Fetrus, menunjukkan bahwa mental pelaku bersama rekan-rekannya tidak pantas menjadi pengayom. 

Pihaknya meminta agar Kapolda Sumut segera memerintahkan penyidik untuk memeroses perkara ini secara profesional.
"Kapolda harus memeroses secara hukum terhadap para pelaku. Jangan biarkan berkeliaran oknum yang seperti ini supaya tidak timbul lagi korban lain," harap mantan aktifis Sumut ini.

Bila dalam waktu dekat perkara ini tidak ada menunjukkan perkembangan, maka dengan sangat terpaksa kasusnya akan dilaporkan kepada Kapolri, Kompolnas dan Komnas HAM. "Korban butuh keadilan," pungkas alumni Fakultas Hukum universitas HKBP nommensen ini. 

Hingga berita ini ditayangkan, pihak redaksi belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kasus tersebut.(Robert)

Postingan populer dari blog ini

Oknum Kepling Terkena OTT Tim Gabungan Polrestabes Medan & Polsek Delitua, Uang Tunai Rp 30 Juta Disita Petugas

Diduga Dibunuh Oleh Mantan Suami, Janda Anak Dua Ini Tewas Bersimbah Darah

Kunjungi RM Nisba, Yasonna Laoli Berpesan Agar Tetap Menjaga Citarasa